Buta Terong

Buta Terong adalah nama tokoh wayang kulit Cirebon, termasuk jenis raksasa (danawa). Disebut buta terong karena hidungnya mirip terong (terung). Dalam lakon Arjuna Sasrabahu, wayang itu dipakai sebagai Sokasrana yang buruk rupa, adik Patih Sumantri. Sumantri merasa malu sehingga membawanya ke Maospati utnuk mengabdi kepada Prabu Arjuna Sasrabahu. Namun karena memaksa, Sokasrana terbunuh oleh kakaknya. Dalam lakon Carangan, wayang itu biasanya dipaksa sebagai utusan yang ditugaskan untuk memerangi Pandawa. Meskipun wajahnya buruk, tetapi ia selalu digambarkan sakti.

Posted in Cerita Wayang, Tokoh Wayang | Leave a comment

Arjuna Sasrabahu – Tokoh Wayang

Tokoh wayang Arjuna Sasrabahu adalah anak Prabu Kartawirya, raja Maespati. Nama sebenarnya Arjuna Wijaya. Ia memiliki ajian Tri Wikrama, yaitu bisa berubah wujud menjadi raksasa seribu bahu (Brahalasewu), sehingga disebut Arjuna Sasrabahu. Ajian ini digunakan bila ia marah sekali.

Dalam lakon Somantri Ngenger, Arjuna mengalahkan Somantri yang menantang perang. Ia menang dengan ajian tersebut, sehingga dapat mempersunting Dewi Citrawati sebagai hasil sayembara Somantri. Dalam lakon Babad Lokapala diungkapkan Arjuna Sasrabahu berperang dengan Rahwana dan hampir membunuhnya, tetapi pada saat terakhir dicegah oleh Batara Narada. Menurut dewa tersebut, Rahwana belum waktunya mati. Arjuna sendiri mati oleh Rama Bargawa dengan senjata Bargawastra.

Posted in Cerita Wayang, Tokoh Wayang | Leave a comment

Togog – tokoh wayang

Togog, adalah anak Sang Hyang Tunggal dengan Dewi Rakawati, bermuka buruk dengan mulut terbuka lebar. Semula ia berparas tampan, berasal dari kulit luar telur yang dikandung Dewi Rakatawati, bernama Sang Hyang Antaga. Ia mempunyai 3 saudara yaitu Sang Hyang Ismaya (dari kulit jangat, nama lainnya Semar), Sang Hyang Rancasan (dari putih telur), dan Sang Hyang Manik Maya atau Batara Guru dari kuning telur.

Togog mengabdi kepada raja-raja yang kaya raya, serakah dan angkara murka. Dalam Ramayana, ia mengabdi kepada Rahwana. Biasa bekerjasama dengan tokoh yang jahat a.l dengan Gedeng Permoni yang bertempat tinggal di Setra Gandamayit, dengan Pendeta Dorna dari Sokalima.

Ketika mendengar Sang Hyang Manikmaya akan dinobatkan oleh ayahnya menjadi raja di Tri Buana, ia merasa iri hati, sebab ialah yang pantas menjadi raja karena ia anak tertua. Hingga timbul keinginan untuk memusnahkan Sang Jagat Nata. Untuk mencapai maksudnya ia ingin bekerjasama dengan adiknya, Sang Hyang Ismaya. Ketika berjumpa dengan Sang Hyang Ismaya, ia diberitahu bahwa Sang Hyang Rancasan mendirikan negara  sendiri di Kahyangan. Maka sebelum niatnya dilaksanakan, secara serentak ia memusnahkan raga kasar Sang Hyang Rancasan sedangkan Sang Hyang Ismaya merobek-robek serta memakan raganya. Di tengah jalan menuju Joggring Salaka (tempat Sang Hyang Manik Maya), mereka dicegat ayahnya. Mereka diperintahkan untuk menelan gunung, barang siapa yang bisa menelan gunung tersebut berhak menjadi raja di Tri Buana. Mendengar hal itu, Sang Hyang Antaga segera menelannya, namun gagal hanya kedua bibirnya yang melebar dan memanjang hingga akhirnya berubah menjadi tokoh wayang yang buruk rupa. Namanya yang semula Sang Hyang Antaga atau Sang Hyang Puguh diganti menjai Togog Wijamantri. Sang Hyang Ismaya menelan gunung itu tapi tak dapat mengeluarkannya lagi, tubuhnya berubah menjadi buruk dan hina dina, namanya diganti Semar. Kedua anak Sang Hyang Tunggal itu dihukum harus turun ke Arcapada. Selama hidup di Arcapada, Togog ditemani oleh anak ciptaannya bernama Jakatambilung. Anak ciptaan lainnya ialah seorang puteri cantik bernama Dewi Laela Sari yang dikawin oleh Astrajingga (anak ciptaan Semar). Dalam cerita Prabu Parikesit sebaga Raja Astina, Togog menjadi penjaga candi-candi di Karang Pecanden. Ialah yang merekayasa huru-hara di Astina sehingga terjadi serangan Sencamuka (anak Jayaderata) atas Parikesit (cucu Arjuna). Dalam cerita Ganda Setra dari Setra Gandamayit, ia menjadi penasihat sekaligus menjadi pesuruh anak Dewi Permoni. Saat itulah ia bersama anak ciptaannya mati terbunuh oleh Raja Pringgadani ketika menyerang Prabu Parikesit, Raja Astina.

Posted in Tokoh Wayang | 1 Comment

Abimanyu

Abimanyu adalah tokoh wayang, anak Arjuna dengan Dewi Subadra. Nama lainnya Angkawijaya. Dia menikah dengan Dewi Siti Sondari (anak Batara Kresna), tapi tidak mempunyai anak. Karena itu, Abimanyu menikah lagi dengan Dewi Utari (anak raja Wirata). Mempunyai anak bernama Parikesit yang kelak menjadi raja Astina setelah Baratayuda. Dalam lakon Jaya Renyuan (bagian dari Baratayuda), Abimanyu gugur di Kurusetra terkena anak panak Gagak Rancang yang dilepaskan oleh Jayadrata.

Posted in Tokoh Wayang | Leave a comment

Carangan

Carangan adalah istilah untuk lakon ciptaan baru dalam pertunjukan wayang purwa. Lakon carangan biasanya hanya berdasarkan Mahabharata. Tak ada lakon carangan yang berdasarkan Ramayana. Lakon carangan biasanya ditempatkan antara AMARTA (Pandawa) dengan ASTINA (Kurawa) menjelang perang Baratayuda. Pada akhir lakon carangan, keadaan harus dikembalikan pada keadaan semula, yaitu hubungan Pandawa dengan Kurawa menjelang perang Baratayuda.

Dalang Wayang Golek dan wayang kulit Cirebon sangat gemar membuat lakon carangan, karena kehebatan dalang ditentukan a.l oleh kemampuan menciptakan lakon carangan. Kebanyakan lakon carangan hanya dimainkan oleh dalang yang menciptakannya saja, sering hanya untuk satu kali pertunjukan. Dengan demikian sang dalang setiap kali ditantang untuk membuat lakon baru. Ada juga lakon carangan yang muncul sebagai karya sastra, walaupun mungkin tak pernah dipertunjukkan, melainkan ditulis dalam Wawacan. Misalnya Wawacan Prabu Malawarduki karya Mh. A. Affandie. Banyak sekali carangan yang dikarang oleh para dalang kreatif, misalnya cerita Dew Purahmadi oleh Ki Dalang Atmaja Cigebar, Tri Tunggal Jaya Sampurna oleh A. Sunarya, dan Semar Munggah Haji oleh dalang Abyor, dll.

Posted in Tokoh Wayang | Leave a comment

Rahwana – tokoh wayang

Rahwana adalah anak Prabu Risrawa (raja Lokapala) dengan Dewi Sukesih (anak bungsu Prabu Somali, raja Alengka). Biasa disebut juga Dasamuka, sebab bila marah mukanya menjadi sepuluh (menggunakan aji Triwikrama). Setelah menjadi raja Alengka sangat kejam dan penuh angkara murka. Ia menculik Dewi Sinta (isteri Batara Rama) yang mengakibatkan peperangan hingga negaranya hancur, semua keluarganya binasa, dan ia sendiri mati. Ia mempunyai kakak seayah, Prabu Danaraja (raja Lokapala), yang dibunuhnya setelah menurunkan ajiannya. Saudara-saudaranya sekandung ialah Kumbakarna (raksasa), Sarpanaka (raksesi) dan Wibisana yang belot ke pihak Batara Rama. Dalam lakon Arjunawijaya, ia kalah dan ditundukkan Prabu Arjuna Sasrabahu. Ketika akan dibunuh, ia mendapat pengampunan dari Batara Narada, hingga bisa hidup dalam lakon Ramayana. Ia mati oleh Rama dengan senjata Dibya. Rahwana bagi orang Sunda adalah lambang keangkaraan dan keserakahan. Ada lagu “Ceurik Rahwana” (tangis rahwana) yang semula dikenal sebagai lagu “Banondari”

Posted in Tokoh Wayang | Leave a comment

Srikandi – tokoh wayang

Srikandi adalah anak perempuan Prabu Durpada, raja Cempaladirja. Ia menjadi istri Arjuna (Raja Madukara) yang kedua. Ketika gadis, ayahnya mengadakan balabar kawat untuk memilih calon suaminya. Barangsiapa yang dapat mengalahkan Patih Gandamana, berhak mempersunting Srikandi. Salah seorang pengikut sayembara itu adalah Bangbang Kombayana, yang waktu bertanding dengan Gandamana, tubuhnya menjadi cacat dan kemudian dikenal sebagai Dorna.

Di dalam kisah Bharatayuda, ia membunuh Bisma yang sakti. Ia sendiri mati dibunuh ketika tidur oleh Aswatama. Dalam pertunjukan wayang, Srikandi adalah wanita sinatria yang pandai memanah dan selalu membela madunya, Subadra kalau diancam musuh. Dalam kehidupan sehari-hari orang Sunda nama Srikandi identik dengan wanita pemberani pejuang pembela kebenaran.

wayang golek srikandi

Posted in Tokoh Wayang | Leave a comment

Destarata – tokoh wayang

Destarata adalah anak pertama Bagawan Abiasa dengan Ambalika. Sejak lahir ia buta. Konon, itu terjadi karena ibunya merasa takut dan memejamkan mata ketika beradu kasih dengan Bagawan Abiasa. Kono pula karena ia sejak dalam kandungan telah mempunyai kesaktian aji Lebur Saketi yang mampu membuat setiap yang dirabanya hancur seketika. Dengan demikian para dewa membuatnya buta, agar tidak merusak kehidupan.

Prameswarinya Gendari (anak Prabu Gendana) melahirkan segumpal darah yang dihancurkan menjelma menjadi berkeping-keping dan menjelma menjadi 101 orang anak (seratus laki-laki dan seorang perempuan), dikenal sebagai keturunan Kurawa. Anak yang sulung ialah Suyudana yang menjadi raja di Astina. Sebenarnya Destarata mendapat titipan kerajaan dari adiknya Pandu Dewanata sebelum meninggal. Kerajaan tersebut harus diberikan kepada anak2 Pandu Dewanata (Pandawa) setelah dewasa.

Dalam lakon Narasoma, Destarata menggunakan aji Basuketi untuk membunuh aji Candrabirawa milik Narasoma sehingga Narasoma menyerahkan adiknya yaitu Dewi Madrim kepada Destarata sebagai tanda takluk. Dewi Madrim menjadi istri kedua adiknya (Pandu Dewanata). Setelah Baratayuda selesai, ia menjadi raja Astina atas persetujuan para Pandawa, sebagai bujukan karena semua anaknya (Kurawa) gugur di Kurusetra. Ia mau membalas dendam atas kematian Suyudana yang dibinasakan oleh Bima, dengan cara meraba bahu Bima. Namun itikad jahatnya diketahui oleh Batara Kresna yang menyarankan agar gada (rujakpolo) Bima diberikan. Ketika gada itu dipegangnya, hancurlah gada itu oleh aji Lebur Saketi. Destarata merasa malu dan pergi ke hutan beserta istrinya dan Kunti Nalibrata. Disanalah mereka moksa karena hutan tersebut banjir.

Posted in Cerita Wayang, Tokoh Wayang | Leave a comment

Antareja

Antareja, disebut juga Antasena, anak Bima dengan Dewi Nagagini (anak Antaboga). Seluruh badannya penuh dengan sisik (seperti ular). Dalam cerita Subadra Larung, ia pernah berperang melawan Gatotkaca (adik seayah) karena keduanya tidak saling mengenal. Setelah dijelaskan oleh Kresna, Antareja memaafkan adiknya yang menuduh nya menculik dan membunuh Subadra. Kesaktian Antareja ada pada lidahnya yang mengandung bisa yang mematikan, meski hanya bayang-bayang musuh yang dijilatnya.

Posted in Tokoh Wayang | Leave a comment

Anoman (Hanoman)

Anoman, atau disebut juga Hanoman, adalah kera berbulu putih, anak Batara Guru dengan Dewi Anjani, senapati Sri Rama, biasa disebut Guru Putra (anak Batara Guru), Anjaniputra (anak Anjani), Begawan Mayangkara ketika menjadi pendeta, pahlawan yang jujur, perkasa, polos, lugas, dan mantap. Dalam cerita Sobali Moksa, Anoman diperintah pamannya (Prabu Sugriwa) mencari Sri Rama untuk diminta bantuannya membunuh Sobali. Dalam Anoman Duta, ia diperintah Sri Rama menyampaikan cincin kepada Dewi Sinta di Negara Alengka. Dengan menyamar menjadi kera kecil ia bisa menerobos Taman Soka (di negara Alengka). Atas bantuan Trijata (anak Wibisana) ia bisa menyampaikan cincin tersebut kepada Dewi Sinta. Ia menerima tusuk sanggul Shinta sebagai jawaban baktinya kepada Rama.

Dalam cerita Anoman Obong ia kena panah rantai (milik Indrajit, anak Rahwana) setelah raksasa-raksasa Alengka mengamuk, selanjutnya ia dibakar, namun karena keampuhan jimat saepi geni dari Batara Brahma ia selamat, bahkan ia bisa membakar sebagian Negara Alengka. Setiba di hadapan Sri Rama ia memberikan tusuk sanggul Dewi Shinta dan melaporkan kejadian di Alengka dan kondisi negara Alengka. Dalam cerita Yuda Kanda ia menjadi senapati yang paling perkasa yang mampu melumpuhkan dan membasmi musuh-musuhnya. Tanpa bantuan Anoman, Sri Rama tidak akan mampu menaklukkan Alengka dan merebut kembalai Shinta.

Dalam cerita Anoman Moksa, ia menjadi pendeta yang bernama Begawan Mayangkara. Ia mempunyai tugas untuk menyatukan negara Widarba dengan Negara Jawastina dengan cara harus mengawinkan para putra Widarma (Amingjaya, Hamijaya, dan Erangjaya) dengan para puteri Jawastina (Dewi Pramuni, Sasanti, dan Dewi Pramesti) melalui sayembara menaklukkan Patih Suksara. Setelah selesai tugasnya, ia mati oleh Prabu Yaksadewa dari Negara Sela Uma yang menginginkan ketiga Puteri Jawastina tersebut. Dengan bantuan gada Yaksadewa, moksalah Anoman. Perkawinannya dengan Dewi Trijata membuahkan anak bernama Tugangga atau Trigangga. Pernah ia berperang dengan anaknya itu ketika akan menemui Dewi Sinta di Taman Soka. Diakhiri kemenangan Anoman. Ajimat atau ajian-ajian Anoman a.l : Ajian Saepi angin pemberian Batara Bayu yang membuatnya bisa berjalan atau lari secepat angin, aji pameling pemberian Batara Wisnu yang bisa memanggil dan bisa menangkap suara dari jarak jauh, aji mundri pemberian pamannya (Prabu Subali) yang mampu menghancurkan musuh-musuh dengan pukulannya, dll.

Posted in Cerita Wayang, Tokoh Wayang | Leave a comment