Carangan

Carangan adalah istilah untuk lakon ciptaan baru dalam pertunjukan wayang purwa. Lakon carangan biasanya hanya berdasarkan Mahabharata. Tak ada lakon carangan yang berdasarkan Ramayana. Lakon carangan biasanya ditempatkan antara AMARTA (Pandawa) dengan ASTINA (Kurawa) menjelang perang Baratayuda. Pada akhir lakon carangan, keadaan harus dikembalikan pada keadaan semula, yaitu hubungan Pandawa dengan Kurawa menjelang perang Baratayuda.

Dalang Wayang Golek dan wayang kulit Cirebon sangat gemar membuat lakon carangan, karena kehebatan dalang ditentukan a.l oleh kemampuan menciptakan lakon carangan. Kebanyakan lakon carangan hanya dimainkan oleh dalang yang menciptakannya saja, sering hanya untuk satu kali pertunjukan. Dengan demikian sang dalang setiap kali ditantang untuk membuat lakon baru. Ada juga lakon carangan yang muncul sebagai karya sastra, walaupun mungkin tak pernah dipertunjukkan, melainkan ditulis dalam Wawacan. Misalnya Wawacan Prabu Malawarduki karya Mh. A. Affandie. Banyak sekali carangan yang dikarang oleh para dalang kreatif, misalnya cerita Dew Purahmadi oleh Ki Dalang Atmaja Cigebar, Tri Tunggal Jaya Sampurna oleh A. Sunarya, dan Semar Munggah Haji oleh dalang Abyor, dll.

This entry was posted in Tokoh Wayang. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>